Rabu, 26 April 2017

Tugas Kelompok Perekonomian Indonesia - Industrialisasi Di Indonesia

              Softskill Perekonomian Indonesia

                                       
       
Hasil gambar untuk logo gundar

                                                     
Disusun Oleh :
1. Alfi Akhdan Rafif               (20216549)
2. Bintang Putri Lestari        (21216450)
3. Lola Cristiyanti Marbun   (24216089)
4. Muhammad Malik Hasan (24216992)




-1EB21-
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016/2017



A. Konsep dan Tujuan Industrialisasi

Dalam sejarah pembangunan ekonomi, konsep industrialisasi berawal dari proses revolusi industrialisasi yang pertama dimulai pada pertengahan abad ke-18 di Inggris dengan penemuan metode baru untuk permintaan dan penenunan kapas yan menciptakan spesialisasi dalam produksi dan peningkatan produktivitas. Setelah itu inovasi dan penemuan baru dalam pembuatan besi baja, kereta api, kapal tenaga uap, dan modus transportasi yang lain. Perkembangan – perkembangan tersebut menyebabkan peningkatan perdagangan  internasional dan tersebarnya industrialisasi ke negara lain di Eropa dan  Amerika Serikat.
Setelah itu revolusi kedua berlangsung pada periode 1870-1913 yang terjadi dengan berbagai perkembangan teknologi. Kemudian setelah perang dunia kedua, perekonomian dunia memasuki zaman emas dimana terjadi peningkatan produksi dan perdagangan  internasional yang pesat. Selain iklim liberalisasi perdagangan yang dimotori oleh Amerika Serikat setelah perang dunia kedua , zaman emas 1960-an juga didasari berbagai inovasi seperti teknologi produksi massal dengan menggunakan assembly line, tenaga listrik, kendaraan bermotor, penemuan berbagai barang sintetis, dan revolusi teknologi telekomunikasi, elektronik dan penggunaan robot (World Bank, 1987).  Dari sejarah tampak bahwa indutrialisasi merupakan proses interaksi antara pengembangan tekonologi, spesialisasi dan perdagangan yang pada akhirnya mendorong perubahan struktur ekonomi.
Umumnya awal proses suatu indutrialisasi suatu negara tercermin dengan meningkatnya pangsa sektor industri dalam Produk Domestik Bruto (PDB) dan diperlukan peningkatan produktivitas sektor pertanian . Selain peningkatan peran sektor industri dalam PDB, pola awal indutrialisasi juga kecenderungannya dimulai dengan sektor-sektor  tekstil, dan bahan baku utama seperti besi, besi bjaa dan mesin perkakas yang menggunakan besi baja. Kemudian dilanjutkan ke sektor elektronik dan mikro elektronik.

B. Faktor-Faktor Pendorong Industrialisasi

Pembangunan sektor industri pengolahan (manufacturing industry) sering mendapat prioritas utama dalam rencana pembangunan nasional kebanyakan negara berkembang, karena sektor ini dianggap sebagai perintis dalam pembangunan ekonomi negara tersebut.
Peranan sektor industri dalam perekonomian negara tersebut lambat laun menjadi sangat penting. Hal ini tercermin pada sumbangan sektor industi terhadap Produk Nasional Bruto (GNP) yang semakin meningkat yaitu dari rata-rata dibawah 10% dari GNP pada tahap awal industrialisasi sampai 25-30% , kadang-kadang bahkan sampai 40% dari GNP, jika suatu negara sudah menjadi negara industri yang dewasa.
Ada tiga faktor yang menerangkan perkembangan sektor industri pada GNP suatu negara terus meningkat sampai 30-40% dari GNP. Pertama, pada umumnya proses industrialisasi dicirikan oleh munculnya unit-unit produksi pengolahan (manufacturing establishments) yang lebih modern dan berskala lebih besar daripada unit-unit produksi kerajinan rakyat dan industri rumah tangga yang digantikan oleh unit-unit produksi yang lebih modern. Kedua, pada tingkat perkembangan ekonomi yang masih rendah (pendapatan perkapita rendah), permintaan masyarakat akan barang jadi pada umumnya dicirikan oleh elastisitas permintaan terhadap pendapatan (income elasticity of demand) yang tinggi. Artinya, dengan kenaikan pendapatan rata-rata masyarakat, maka permintaan akan barang-barang meningkat. Ketiga, proses industrialisasi yang berpola subtitusi  (barang) impor dengan barang-barang jadi yang dihasilkan, yang dimungkinkan oleh proteksi kuat berupa tarif bea masuk yang tinggi atau kuota (pembatsan kuantitatif) terhadap impor barang-barang jadi. Oleh karena itu, produksi domestik barang jadi meningkat dengan lebih pesat daripada konsumsi domestik.

C. Perkembangan Sektor Industri Manufaktur Nasional

Bila ukuran industrialisasi adalah sumbangan Nilai Tambah Sektor Manufaktur (NTSM) pada PDB, maka dibandingkan dengan negara lain Indonesia sungguh tertinggal dalam proses industrialisasi. Pada tahun 1965, tingkat industrialisasi setara dengan Malaysia, dibawah China, Brasil, Meksiko, Korea, India, Turki, dan Thailand. Peringkat terbawah ini dipegang terus oleh Indonesia sampai tahun 1990 pada saat pangsa sektor manufaktur Indonesia mencapai 20 persen atau jauh kalah cepat dengan Malaysia yang telah mencapainya pada tahun 1981.  Sejak tahun 1990, sumbangan sektor manufaktur Indonesia terus bertambah hingga pada tahun 1994 telah  melampaui Turki, Meksiko, dan india dan walaupun hamper menyamai Brasil, namun masih dibawah Cina, Malaysia dan Korea dan Thailand.
Pada awal orde baru EM (Ekspor Manufaktur)  hanya merupakan 4 persen dari seluruh ekspor pada tahun Indonesia, kira-kira setara dengan Brazil, Malaysia, dan Turki. Sementara Korea sudah menjadi negara pengekspor barang-barang manufaktur pada tahun tersebut dengan EM 60 persen dari keseluruhan ekspor, atau melampaui ekspor barang-barang bukan manufaktur. Antara tahun 1965-1982, sementara negara-negara lain berhasil mengubah komposisi komoditas ekspornya dengan meningkatkan pangsa EM, pangsa EM Indonesia tidak berubah banyak, malah cenderung turun. Pada periode tersebut Indonesia sedang menikmati “bonanza minyak”, di mana minyak dan gas bumi mengambil porsi terbesar ekspor Indonesia dan mencapai puncaknya pada tahun 1982 ketika ekspor migas menyumbang 75 persen dari total ekspor.
Pengaruh negatif dari Boom sumber daya alam terhadap EM ini dalam literature dikenal sebagai Dutch Disease yaitu penerimaan dari ekspor minyak yang dibelanjakan dalam negeri akan mendorong harga barang- barang non traded meningkat relatif terhadap barang-barang traded. Pada awal tahun 1970-an harga barang tradable masih berkisar antara 1-1,2 kali harga barang-barang non tradable.Pada tahun 1977 perbandingan harga tradable/ non tradable telah turun hanya sampia 0,7. Devaluasi tahun 1978 berhasil meningkatkan harga relatif tradable/ non tradable namun hanya meningkat ke 0,9 kemudian turun lagi menjadi 0,7 pada tahun 1982. Perubahan harga relatif telah mendorong peprindahan faktor produksi (modal dan tenaga kerja) dari sektor traded ke sektor non-traded. Dengan berakhirnya boom minyak pada akhir dasawarsa 1980-an, pangsa EM Indonesia naik pesat sampai melampaui ekspor nonmigas pada tahun 1992.  Dengan demikian bila pada tahun 1982, pangsa EM Korea, Turki, dan Brazil masih 23,10 dan 11 kali pangsa EM Indonesia, hanya dalam 12 tahun, pangsa EM Indonesia telah menyamai Brazil, 70 persen dari Turki dan 56 persen dari Korea.
Modal merupakan input utama untuk memproduksi barang-barang manufaktur, SDA adalah input utama yang padat SDA, tenaga kerja diperlukan baik oleh sektor manufaktur maupun sektor sektor padat-SDA. Pada tahap awal pembangunan ekonomi, hanya sedikit modal yang dimiliki sehingga tingkat upah ditentukan oleh rasio antara kekayaan SDA dan banyakya tenaga kerja. Semakin besar penguasaan SDA relatif terhadap besarnya tenaga kerja semakin besar tingkat produktivitas marginal tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan barang-barang padat- SDA. Pada tahap ini negara tersbut memiliki keunggulan komparatif dalam eskpor barang-barang padat SDA sehingga negara tersebut akan menjadi pengekspor netto barang-barang padat SDA. Dengan berjalannya waktu akan terjadi pemupukan modal, sehingga keunggulan komparatif akan bergeser ke sektor-sektor yang memerlukan banyak modal yaitu sekotr manufaktur dan negara tersebut akhirnya akan menjadi pengeskpor netto produk manufaktur. Salah satu indikator yang menunjukkan perubahan keunggulan komparatif adalah Indeks Revealed Comparatif Advantage (RCA). Indeks ini menunukkan perbandingan antara pangsa ekspor komoditas atau sekelompok komoditas suatu negara terhadap pangsa ekspor komoditas tersebut dari seluruh dunia.
RCA ij = Xij   ∑j Xij
      Wj ∑j Wij

Dimana :
Xij = Ekspor komoditas j dari negara i
Wij = Ekspor komoditas j di dunia

Indeks RCA lebih daripada 1 menunjukkan bahwa negara mempunyai keunggulan komparatif dalam komoditas j. Berikut evolusi sektor manufaktur untuk Indonesia dan beberapa  negara pembanding. Korea sudah memiliki keunggulan komparatif dalam sektor manufaktur sejak 1965 dengan RCA sebesar 1,06. RCA Korea ini naik terus sampai mencapai puncaknya pada tahun 1980 dengan RCA 1,62.  Sejak tahun 1980, RCA Korea turun terus hingga pada tahun 1994 tinggal 1,20. India juga mencapai puncak RCA pada tahun 1980 dengan RCA setara dengan Korea pada tahun 1965.  Turki dan Thailand dan Malaysia termasuk negara yang secara cepat terintegrasi ke pasar internasional. Selama tahun 1965-1994 RCA Turki, Thailand dan Malaysia tumbuh sebsar rata-rata 11, dan 7,5 persen pertahun.
RCA EM Indonesia tidak banyak berubah sepanjang 1965-1982, bahkan ada kecenderungan menurun antara tahun 1965-1976. Lamanya proses transportasi dimana tenaga kerja berpindah dari sektor yang padat SDA kesektor manufaktur tergantung dari besarnya SDA yang dimiliki suatu negara pada awal pembangunan ekonomi. Semakin besar SDA yang tersedia pada awal pembangunan  semakin besar akumulasi modal yang diperlukan sampai suatu negara melampaui ambang batas dimana pangsa EM melampaui pangsa ekspor barang padat SDA. Karunia faktor suatu negara tidak hanya tergantung dari jumlah SDA yang tersedia secara fisik, tetapi juga bisa meningkat secara mendadak karena naiknya harga SDA. Dalam kasus Indonesia, migas merupakan karunia faktor utama mengalami lonjakan harga pada tahun 1972-1982, terutama pada tahun 1974 dan 1979. Namun, sejak tahun 1982, keunggulan komparatif Indonesia meningkat pesat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 19 persen per tahun, hingga pada tahun 1994 RCA EM Indonesia telah meningkat 10 kali lipat dibandingkan pada tahun 1982. Prestasi ini setara dengan prestasi Turki sepanjang 1965-1977 yang juga tumbuh 19 persen per tahun. Pada periode tersebut RCA EM Thailand juga tumbuh pesat sebsar 15 persen per tahun. Bila Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan RCA EM sebesar 9 persen per tahun maka pada tahun 2000 RCA EM Indonesia akan melampaui 1. Pada saat itu Indonesia akan memiliki keunggulan komparatif dalam ekspor produk manufaktur.
Perubahan Struktur Sektor Manufaktur Indonesia
Dalam proses perkembangan ekonomi terdapat pola umum dalam perubahan struktur ekonomi. Pertama, sektor manufaktur biasanya tumbuh dengan pesat pada tahap awal pembangunan ekonomi sampai mencapai puncaknya ketika NTSM mencapai 30 persen dari PDB. Pada tahun 1970-an tahap saturasi ini dicapai Brasil dan Cina, Korea pada tahun 1980-an, Malaysia dan Thailand pada tahun 1994. Dalam kasus Indonesia, hal ini tidak sepenuhnya terjadi karena besarnya peran sektor PDB. Bary sejak pertengahan tahun 1980-an , peran sektor manufaktur berkembang pesat.
Kedua, sektor manufaktur tumbuh menjadi lebih cepat daripada sektor pertanian sehingga akhirnya pangsanya melampaui sektor pertanian. Pada tahun 1991 ketika NTSM mencapai 21 persen. Disamping perubahan struktur ekonomi, diektor manufaktur terjadi transformasi yang cukup mengesankan terutama sejak 1983. Indikator pertama yang dapat digunakan adalah Indeks Perubahan Struktural (IPS) berikut :

I  =  ∑ ( a i2 -  a i1) bila a i2 > a i1
Dimana: ai  adalah pangsa industri i dalam NTSM
              1 dan 2 menunjukkan periode awal dan akhir
Bila tidak ada perubahan sama sekali, maka I = 0 , sebaliknya bila semua sektor  mengalami perubahan, maka I akan mendekati 1. Untuk mengukur perubahan struktural ini, akan digunakan data Backcast  yang disediakan BPS dengan tingkat disagregasi 5 dijit. Hasil regresi pertumbuhan dan IPS  dapat dilihat dalam Tabel 2.2 Koefisien yang positif menunjukan bahwa terdapat hubungan positif antara perubahan struktur dan pertumbuhan di sektor manufaktur. Angka dalam tanda kurung adalah tanda signifikasi, semakin kecil angkanya semakin nyata hubungan antara pertumbuhan dengan IPS baik pada periode 1975-1983 maupun 1983-1992, anmun hubungan tersebut menjadi semakin kuat pada periode 1983-1992, ter bukti dari koefisien regresi yang meningkat dari 1,26 pada periode 1975-1983 menjadi 1,70 pada periode berikutnya.

Tabel 2.2

KOEFISIEN REGRESI ANTARA PERTUMBUHAN DENGAN IPS

Periode                                                                       Koefisien Regresi
1975-1983                                                                                                                 1.26
                                                                                                                                 (0,061)
1983-1992                                                                                                                 1.70
                                                                                                                                 (0,078)

Terjadinya perubahan struktur bisa ditelusuri dari perbedaan relatif pertumbuhan produktivitas dimasing-masing industri . Industri yang produktivitasnya tumbuh di atas rata-rata menunjukkan bahwa tingkat pengembalian terhadap faktro produksi (return to factor of production; yang dapat diukur oleh tingkat upah dan ROI) di indutri tersebut tumbuh lebih cepat daripada pertumbuhan rata-rata. Akibatnya faktor produksi akan bergerak meninggalkan industri yang pertumbuhan produktivitasnya dibawah rata-rata ke industri yang pertumbuhan produktivitasnya di atas rata-rata.  Bila tidak ada hambatan terhadap pergerakan faktor produksi maka perubahan struktur  akan berakibat positif pada pertumbuhan produktivitas rata-rata sektor manufaktur. Karena produktivitas adalah salah satu komponen pertumbuhan, maka dapat diharapkan adanya kaitan antara perubahan struktur dan pertumbuhan.
Untuk menguji teori diatas akan dilakukan uji korelasi antara pertumbuhan pangsa nilai tambah industri dan pertumbuhan produktivitas tenaga kerja dimasing-masing industri . Tabel 2.3 berikut menunjukkan koefisien korelasi dan uji statistikanya. Dari tabel tersebut kembali terlihat korelasi positif yang sangat kuat (angka dalam tanda kurung menunjukkan tingkat signifikan. Namun koefisien korelasi periode 1983-1990 lebih rendah daripada periode 1976-1982. Deregulasi sejak 1983 seharusnya menghilangkan hambatan bagi pergerakan faktor produksi. Jadi seharusnya hubungan antara pertumbuhan pangsa nilai tambah dan pertumbuhan produktivitas lebih kuat pada periode terakhir. Kendati demikian, data yang dimiliki adalah data produktivitas tenaga kerja, bukan produktivitas total yang menyertakan produktivitas modal. Jadi mungkin saja melemahnya kaitan antara produktivitas tenaga kerja dengan pertumbuhan pangsa nilai tambah diimbangi oleh kaitan yang lebih kuat antara produktivitas modal dengan pertumbuhan pangsa.


Tabel 2.3

KORELASI ANTARA PERTUMBUHAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DAN PERTUMBUHAN PANGSA NILAI TAMBAH

PERIODE                                                                                                                                       KOEFISIEN KORELASI
1976-1992                                                                                                                                                    0,408
                                                                                                                                                                   (0,000)
1976-1982                                                                                                                                                    0.472
                                                                                                                                                                   (0,000)
1983-1990                                                                                                                                                    0,345
                                                                                                                                                                   (0,000)

Perubahan struktur disektro manufaktur dilihat dari perubahan komposisi NTSM berdasarkan kepadatan faktor (factor intensity). Karena terdapat perbedaan dalam teknologi yang diperlukan untuk menghasilkan barang disektor manufaktur, amka muncul variasi antar industri menurut kepadatan faktor produksi. Tektsil misalnya, termasuk kategori indutri padat karya. Sektor padat sumber daya pertanian (PSDP) mengambil porsi yang terbesar pada tahun 1975. Enam puluh persen NTSM disumbang oleh sektor pada tahun tersebut. Drai enam puluh persen tersebut lebih separuhnya diproduksi oleh 5 industri : gula, kopi, crumb rubber dan minyak goreng.  Kecuali crumb rubber, semuanya adalah barang kebutuhan pokok yang berorientasi dalam negeri. 17 tahun kemudian, pangsa golongan ini tinggal 37 persen. Sementara golongan padat-karya dari 16 persen menjadi 28 persen; padat teknologi dari 3 persen menjadi 7 persen; sedangkan golongan padat – sumber daya mineral tidak banyak berubah. Pola seperti ini adalah pola yang umum terjadi sepanjang proses industrialisasi. Elastisitas pendapatan barang-barang kebutuhan pokok biasanya rendah, sementara elasitisitas barang-barang lainnya seperti barang-barang elektronik cukup tinggi. Dengan meningkatnya pendapatan, proporsi barang kebutuhan pokok dalam konsumsi penduduk akan menurun.
Komposisi golongan utama PSDP juga berubah drastis. Dari 44 Industri yang tergolong PSDP, 14 industri menyumbang sekitar 80 persen dari total nilai tambah industri golongan ini. Dari 14 industri tersebut  5 industri, rokok kretek, gula, pengolahan kayu, crumb rubber, dan minyak goreng selalu masuk dalam peringkat 10 industri terbesar, menyumbang sekitar separuh dari nilai tambah disektor PSDP. Sedangkan industri kayu lapis, roti kue dan biskuit; kertas dan makanan ternak baru masuk dalam kelompok industri PSDP. Empat industri ini hanya menyumbang 2,2 persen ari seluruh nilai tambah sektor PSDP pada tahun 1975. Tujuh belas tahun  kemudian, sumbangannya sudah melebihi sepertiga dari total nilai tambah sektor PSDP. Sebaliknya industri teh, pengasapan karet, rokok putih , kopi dan rimiling karet turun sumbangannya dari 35 persen pada tahun 1975 menjadi tinggal 4 persen pada tahun 1992. Beberapa hal patut dicatat. Pertama, industri-industri yang berbahan dasar kayu, seperti kayu lapis dan industri kertas semakin besar perannya. Pada tahun 1992 seluruh industri yang berbahan dasar kayu menyumbang 12,5 persen dari NTSM, lebih tinggi dari sumbangan gabungan industri rokok kretek dan gula.


Tabel 2.4

INDUSTRI YANG PERNAH MASUK DALAM 10 BESAR DISEKTOR  PADAT- SUMBER DAYA PERTANIAN
(persen terhadap nilai tambah)

ISIC                         KOMODITAS                                                       1975        1980        1985        1992
Selalu Berperan
31420                       Kretek                                                                      8,0         13,9         13,6         9,2
31181                       Gula                                                                         8,1         3,8           3,7           2,1
33111                       Pengolahan Kayu                                                     1,5         2,4           2,4           1,4
35523                       Karet Remah                                                            6,4         3,5           1,7           1,2
31159                       Minyak goreng                                                         6,0         5,4           2,3           1,2
                                 Persen terhadap NTSM                                      30,0        29,0        23,8        15,2
                                 Persen terhadap PSDP                                        49,3        56,3        53,5        40,6       
                                                                  Semakin Berperan
33113                        Kayu Lapis                                                            0,4           2,3           4,9           6,7
31179                        Roti, Kue,Biskuit                                                   0,2           0,2           0,3           4,2
34111                        Kertas                                                                   0,4           0.9           1,3           2,0
31280                        Makanan ternak                                                    0,3           0,6           0,9           1.2
                         Persen terhadap NTSM                                       1,3           4,0           7,3           14,0
                                  Persen terhadap PSDP                                        2,2           7,8           16,5         37,5
Turun Perannya
31220                       Teh                                                                         4,8           2,6           1,0           0,5
35521                       Pengasapan Karet                                                    2,9           1,3           0,5           0,5
31430                       Rokok Putih                                                            4,3           3,6           1.4           0,4
31163                       Kopi                                                                        7,2           2,7           1,2           0,2
35522                       Remiling Karet                                                        2,2           1,4           0,9           0,1
                         Persen terhadap NTSM                                        21,4         11,6         5,0           1,6
                                 Persen terhadap PSDP                                          35,2         22,5         11.2         4,4
Total terhadap NTSM                                                                         52,6        44,7        36,1        30,9
         terhadap  PSDP                                                                           86,7        86,6        81,2        82,5

Yang juga mengalami perubahan cukup berarti adalah golongan padat karya (PK). Selama 17 tahun pangsanya dalam keseluruhan NTSM naik hampir dua kali lipat dari sekitar 16 persen pada 1975 menjadi 28 persen pada 1992. Namun berbeda dengan golongan PSDP, komoposisi disektor ini tidak banyak berubah (Tabel 2.5). Tujuh industri yang tercantum pada Tabel 2.5  menyumbang antara 70-74 % dari seluruh nilai tambah industri padat-karya (PK). Industri tenun, alas kaki dan pemintalan benang adalah  industri-industri yang selalu termasuk dalam lima besar penyumbang industri padat karya. Namun kontribusi tiga industri ini dalam nilai tambah industri padat karya terus  menurun dari 47 persen menjadi 33 persen. Industri reparasi kapal dan obat-obatan turun lebih drastis. Bila pada 1975, dua industri ini masih berada dalam peringkat ke-4 dan ke-3 dalam nilai tambah industri padat-karya, Pada tahun 1992 telah terjadi penurunan menjadi peringkat ke-7 dan ke-8, sementara pangsanya turun lebih dari separuh yaitu dari 18 persen menjadi 8 persen pada periode yang sama. Pangsa industri pakaian jadi naik lebih dari tujuh kali lipat dari 0,8 persen pada tahun 1975 menjadi 5,9 persen pada tahun 1992, dan pada saat yang sama industri barang-barang plastik, industri yang juga tumbuh pesat, naik tiga kali lipat.
Tabel 2.5
INDUSTRI YANG PERNAH TERMASUK 5 BESAR DI SEKTOR PADAT KARYA
(Persen Terhadap Nilai Tambah)
1975-1992
ISIC                         KOMODITAS                                       1975        1980        1985        1992
32112                     Tenun                                                        4,7          4,8          4,7          4,2
32400                     Alas Kaki                                                  0,9          0,6          0,6          2.5
32111                     Pemintalan Benang                                 1,9          3,4          3,4          2,4
                                 Persentase terhadap  NTSM               7,4          8,8          8,3          9,1
                                 Persentase terhadap PK                     47,0        43,4        37,1        32,8

Semakin Berperan

32210                     Garmen                                                    0,8          2,9          3,5          5,9
 35600                    Barang Plastik                                        0,7          0,8          1,4          2,1
                                 Persentase terhadap  NTSM             1,5          3,8          4,9          8,0
                                 Persentase terhadap PK                     9,7          18,8        21,9        28,8

Turun Perannya

38411                     Reparasi Kapal                                      0,9          1,0          1,1          1,2
35221                     Obat-obatan                                          1,8          1,9          1,9          1,1
                         Persen terhadap NTSM                     2,8          2,9          3,0          2,3
                                 Persen terhadap PK                            17,5        14,4        13,2        8,3
      Total persen terhadap NTSM                                      11,8        15,5        16,2        19,4
                      Persen terhadap PK                                       74,2        76,6        72,2        69,9

D. Permasalahan Industrialisasi

Pertumbuhan industri – industri yang cukup pesat dalam tahun – tahun mendatang tidak akan dapat banyak menyerap tenaga kerja baru yang tiap tahun bertambah dengan kurang lebih 1,5 juta orang. Berhubungan dengan hal di atas maka sektor industri dalam tahun – tahun mendatang tidak dapat diharapkan akan memegang peranan yang berarti dalam menciptakan cukup lapangan kerja untuk membantu memecahkan masalah kesempatan kerja di Indonesia. Meskipun sektor industri untuk masa mendatang belum dapat diharapkan akan dapat memegang peranan yang berarti dalam menciptakan cukup banyak lapangan kerja baru bagi pertambahan angkatan kerja, namun berbagai ahli ekonomi pembangunan berpendapat bahwa dengan masalah tekanan penduduk yang demikian besar, Indonesia mau tidak mau harus menempuh suatu pola pembangunan ekonomi yang padat karya. Pola demikian akan meningkatkan efesiensi produktif di Indonesia karena akan memanfaatkan dengan lebih baik faktor produksi yang berlimpah - limpah  (tenaga kerja), dan dengan cara ini akan membantu pula mencapai pemerataan karena penciptaan lapangan kerja baru serta peningkatan upah para pekerja.

E.Strategi Pembangunan Sektor Industri

Peningkatan ekspor barang – barang jadi yang padat karya, hal ini berarti bahwa kebijaksanaan ekonomi yang sebelumnya lebih berpotensi ke dalam (inward-looking policies)  harus lebih bergeser ke kebijaksanaan yang berpotensi keluar (outward-looking policies) , khususnya dalam mengembangkan industri – industri ekspor yang tangguh berdasarkan keuggulan komparatif Indonesia.
Kebijaksanaan ekonomi ke arah yang lebih berorientasi “ke luar” dimana sumber – sumber daya produktif dialokasikan ke industri – industri dan usaha – usaha ekonomi lainnya dimana Indonesia mempunyai “ keunggulan komparatif ”. industri – industri dimana Indonesia mempunyai keunggulan komparatif untuk sebagian besar adalah “ industri – industri ekspor ” yang “ padat karya “. Industri – industri ekspor ini mempunyai efiensi produkif yang lebih tinggi daripada industri – industri subtitusi impor yang lebih padat modal, karena industri- industri ekspor ini mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja yang justru merupakan faktor produksi yang berlimpah – limpah di Indonesia. Dengan mendorong industri – industri ekspor ini, maka tujuan pemerataan juga dapat dicapat dengan mudah, karena industri – industri ekspor yang padat karya ini dapat mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja serta dapat pula meningkatkan tingkat upah tenaga kerja ini, jika permintaan akan tenaga kerja ini akan meningkatkan dengan pesat.
Pendekatan struktural dalam kebijaksanaan industri ( yang bertujuan untuk mendorong pembangunan industri – industri yang dapat ‘memperdalam’ struktur industri Indonesia melalui pengembangan industri – industri dasar dan industri – industri yang menghasilkan barang – barang setengah jadi tanpa banyak mengindahkan faktor efesiensi ) sebaiknya ditinggalkan. Pendekatan strukturalis dalam kebijaksanaan industri pada dasarnya bertujuan untuk melaksanakan pola industrialisasi subtitus impor secara besar – besaran, dimana pola industrialisasi subtitusi impor pada tingkat hilir mau diperluas sampai ketingkat hulu.


CONTOH KASUS INDUSTRIALISASI DI INDONESIA
Ministry of Industry Optimistic Re-industrialization to Start 2017
http://www.gaikindo.or.id/en/menperin-optimis-reindustrialisasi-mulai-2017/
JAKARTA— Minister of Industry Airlangga Hartanto is optimistic to restore the rise of national industry which will begin in 2017. “I am mandated by the President to regain industrial sector contribution to the economy of Indonesia,” said the Minister.
This hope requires a strong commitment from upstream to downstream stakeholders, policy makers, to industry players. He delivered it when he became a key speaker in the Focus Group Discussion on Industry Options of Economic Committee and the National Industry (KEIN) in Indonesia Industrialization Strategic Framework 2045 in Bogor.
Airlangga’s confidence is boosted by the efforts and government’s policies namely, among others, to create a conducive business climate, to deregulate, to issue a package of economic policy, infrastructure development and industrial gas price reduction.
“If all that goes well, we can reach the target with some 5.4 percent industrial growth, above the economic growth next year,” said Airlangga.
Meanwhile, the industrial growth in 2016 is projected to reach 4.8 to 5.2 percent. “The target of economic growth in 2017 is around 5.2 percent and 2018 by seven per cent, while investments in 2017 is hoped to reach IDR 600 trillion and by 2018 as much as IDR 800 trillion,” he said.
In the National Industrial Development Master Plan (RIPIN) 2015-2035 which includes the vision and mission and strategy of industrial development, the government has some quantitative targets of industrial development gradually until 2035.
The goals include non-oil industrial sector growth of 10.5 percent, non-oil industry’s contribution to GDP to 30 percent, as well as the contribution of exports to total exports of industrial products increased from 78.4 in 2015 positions, which reached 70 percent.
To achieve these goals, according to the Head of Research and Development (ARDI) of the Ministry of Industry Haris Munandar, there are strategic steps to be divided into three stages.
First, the period 2015-2019 focuses on increasing the added value and optimizes the abundant natural resources in the country through the downstream industries. “The direction in agro-based industries upstream, mineral and oil and gas, followed by the development of supporting industries and mainstay selectively,” he said.
The second phase, the period 2020-2024 focuses on being competitive and environmentally-friendly enterprises. This effort will be taken by strengthening the industrial and technological mastery, supported by quality human resources.
The third phase in 2025-2035 will make Indonesia as a strong industrial state, characterized by a strong national industrial structure and deep, highly competitive at the global level, as well as innovation and technology-based.
According to Haris, such programs and policies were set in the efforts to develop priority industry, particularly the labor-intensive and export-oriented sectors. “Such as food and beverages, textiles and textile products, footwear, and electronics and telematics, which can give the highest contribution to the GDP and employs many workers,” he said.
The industrial construction in the future will be focused on the 11 groups, the food industry, pharmaceutical industry, cosmetics and medical devices, textiles, leather, footwear and miscellaneous, industrial transportation, industrial electronics and telecommunications (ICT).
In addition, the energy generation industry, capital goods industry, components, auxiliary materials and services industry, agro upstream industry, basic metal and nonmetal minerals, basic chemical industries based on oil and gas and coal, as well as small and medium industrial sector of the creative crafts.
ANALISIS KASUS
What  : Optimis membangkitkan perindustrian nasional.
Who   : Menteri perindustrian Airlangga Hartanto
When : februari 2017
Where: Jakarta
Why  : Karena dorongan dari upaya dan kebijakan pemerintah antara lain menciptakan iklim usaha yang kondusif, deregulasi, mengeluarkan paket kebijakan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan pengurangan harga gas industri.
"Jika semua berjalan lancar, kita bisa mencapai target dengan pertumbuhan industri 5,4 persen, di atas pertumbuhan ekonomi tahun depan," kata Airlangga.
Sementara itu, pertumbuhan industri pada 2016 diproyeksikan mencapai 4,8 hingga 5,2 persen.
How  : Untuk mencapai tujuan tersebut, menurut Kepala Riset dan Pengembangan (ARDI) Kementerian Perindustrian Haris Munandar, ada beberapa langkah strategis yang bisa dibagi menjadi tiga tahap.
Pertama, periode 2015-2019 berfokus pada peningkatan nilai tambah dan optimalisasi sumber daya alam yang melimpah di dalam negeri melalui industri hilir. "Arah industri agro berbasis hulu, mineral dan minyak dan gas, diikuti oleh pengembangan industri pendukung dan andalan selektif," katanya.
Tahap kedua, periode 2020-2024 berfokus pada perusahaan yang kompetitif dan ramah lingkungan. Upaya ini akan dilakukan dengan memperkuat penguasaan industri dan teknologi, didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas.
Fase ketiga tahun 2025-2035 akan menjadikan Indonesia sebagai negara industri yang kuat, ditandai oleh struktur industri nasional yang kuat dan mendalam, sangat kompetitif di tingkat global, serta inovasi dan berbasis teknologi.
Kesimpulan : Indonesia akan memulai membangkitan perindustrian nasional pada tahun 2017, Mentri perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan bahwa "Jika semua berjalan lancar, kita bisa mencapai target dengan pertumbuhan industri 5,4 persen, di atas pertumbuhan ekonomi tahun depan," kata Airlangga. Sementara itu, pertumbuhan industri pada 2016 diproyeksikan mencapai 4,8 hingga 5,2 persen. Untuk mencapai tujuan tersebut, menurut Haris Munandar ada 3 fase yaitu :
·     Periode 2015-2019 berfokus pada peningkatan nilai tambah dan optimalisasi sumber daya alam yang melimpah di dalam negeri melalui industri hilir. "Arah industri agro berbasis hulu, mineral dan minyak dan gas, diikuti oleh pengembangan industri pendukung dan andalan selektif," katanya.
·     Periode 2020-2024 berfokus pada perusahaan yang kompetitif dan ramah lingkungan. Upaya ini akan dilakukan dengan memperkuat penguasaan industri dan teknologi, didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas.
·       Periode 2025-2035 akan menjadikan Indonesia sebagai negara industri yang kuat, ditandai oleh struktur industri nasional yang kuat dan mendalam, sangat kompetitif di tingkat global, serta inovasi dan berbasis teknologi.


DAFTAR PUSTAKA
Wie,Kian.1988.Industrialisasi Indonesia.Jakarta: PT.Intermesa.
Pangestu,Mari.dkk.1996.Transformasi Indonesia dalam Era Perdagangan.Jakarta:Centre for Strategic and Internastional Studies (CSIS).